Kenapa dengan status Peneliti?

1 Apr

Hari ini saya mendapat kabar yang tidak menyenangkan. Proposal penelitian dari DIKTI yang saya ajukan untuk Program Hibah Kompetitif Penelitian Sesuai Prioritas Nasional ternyata tidak diterima oleh LPPM-ITB. Diminta untuk diganti ketua Tim nya dari kalangan Dosen. Dan saya sebagai ketua Tim bukanlah Dosen. Haiyyyaaa.

So what? Tapi kan saya peneliti. Bukankah tugas Peneliti adalah melakukan penelitian? Sedangkan dosen tugasnya mengajar… Dan juga, di ketentuan/syarat yang diberikan tidak dicantumkan syarat utama ketua tim adalah dosen. Saya kecewa berat. Sementara proyek penelitian dari Kementrian Ristek tidak mempermasalahkan itu. Seperti yang dialami oleh teman saya, Mas Bandung.

Termenung saya sendiri. Tapi saya pikir ini memang bukan rezeki saya. Sudahlah, yang penting saya tetap jalankan penelitian ini…

Sepertinya status peneliti di ITB masih dianaktirikan oleh ITB😦

8 Responses to “Kenapa dengan status Peneliti?”

  1. ybandung April 1, 2009 at 5:25 pm #

    Tetap semangat Mas Anton .. Bentar lagi deadline pemasukan proposal untuk program insentif dari KRT. Maju terus .. proposal boleh mental, ide jalan terus.

  2. aWi April 1, 2009 at 5:35 pm #

    Hatur nuhun, mas dung.

    Iya ini juga dapet jalan dari Bu Nia. Akhirnya melalui Pak Judojono Kartidjo, saya coba usulkan kembali.

    Riset Insentif sudah sy ajukan, dapet no.pendaftaran ke-30 euy….

  3. mulyanto April 1, 2009 at 5:55 pm #

    Soalnya kalau dosen ITB, nggak akan bikin blog seperti ini.

    lari ngacir…..😀

  4. kyko_pushing April 1, 2009 at 6:26 pm #

    T_T semangat kang awi…
    Saya jg lg dibuat ribet sama kampus neh…
    Mau lulus aja susah amit…
    heu heu

    Sukses terus kang…..

  5. apdri April 2, 2009 at 10:11 am #

    … ayo Kyko kamu bisa …
    mode kirim semangat berantai : on🙂

  6. jonny April 4, 2009 at 2:01 pm #

    @ Awi …. Har…. ari sugan teh Kang Awi teh staf dosen di Elektro … Ya begitulah di Diknas masih belum konsisten…tidak seperti di LIPI (kan sama peneliti) tapi boleh ngajuin riset meskipun bukan dosen…

    Memang harus ada paradigma baru dalam kontek diknas Kang Awi… sebagai contoh misalnya Apa perlu standarisasi pendidikan dengan ketat diterapkan tanpa melihat latar belakang (historis anak didik) mulai dari SD, SMP, SMA… Katanya wajib belajar… kalau muridnya unggal tahun teu lulus kumaha ???? Beuki katinggaleun Indonesia teh dalam hal mencerdaskan bangsanya. Peraturannya lebih subjektif … termasuk juga itu Dana riset….
    Kang Awi kalau begitu nempel di PAU ya kalau melakukan riset juga…. Masih sempat juga ngisi Blog … wuah hebat buanget…

    Sukses selalu dan jangan patah semangat.. Masuk ke situs dana riset di luar nagreg kan banyak Kang Awi…

    Wassalam

  7. parmis April 6, 2009 at 7:43 am #

    nasib-nasib ton ambil hikmah aja kale

  8. edwidianto April 16, 2009 at 9:41 am #

    Yup, mas Anton. Seperti kata Pak Parmis, ambil hikmahnya saja. Saya sendiri sih sudah nggak begitu berharap dari ini. Ngirim proposal akan tetep jalan, perkara mental lagi karena LPPM itu urusan belakangan. Makanya saya lagi nyoba ngerintis ngembangin ide dengan swadaya. Saya coba2 ngobrol dengan tetangga di kompleks pengin mengimplementasikan ide, dan responsnya luar biasa. Untuk dukungan finansial dan prasarana serta tenaga, mereka siap. Lagi mode tancap gas nih..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: