Open Source Perkuat Riset Sains Teknologi

29 May

Perguruan tinggi selalu menjadi kawah candradimuka bagi setiap perkembangan sains dan teknologi. Keajaiban sains-tek modern, dalam banyak hal lahir dari pergulatan para akademisi dan ilmuwan di perguruan tinggi. Banyak yang tidak menyangka, teknologi masa kini seperti PC, Hand Phone, dan Televisi dilahirkan dari pergumulan para fisikawan modern. Adapun riset di perguruan tinggi selalu membawa misi, bahwa ilmu pengetahuan seyogyanya dapat diakses oleh sebanyak mungkin orang, dan beserta itu membawa kebaikan bagi mereka.

Open Source merupakan salah satu solusi yang tepat untuk menjadi wahana misionaris perkembangan sains-tek kepada publik. Software berlisensi freeware atau shareware merupakan penerobos tabir batas yang selama ini membentang antara ilmuwan dan publik.

Software Proprietary versus Open Source dalam Sains-tek

Seringkali ilmuwan bekerja dalam dua dunia yang berbeda, di mana kedua dunia tersebut memiliki perbedaan kepentingan. Sebagian ilmuwan memilih bekerja di Industri komersial, sementara sebagian memilih bekerja di perguruan tinggi atau lembaga penelitian non departemen.

Distingsi dua dunia ini tidak dapat dilihat secara hitam putih, karena sering kali ilmuwan bekerja di ranah komersial dan akademik sekaligus. Kecenderungan distingsi ini semakin kabur, karena mulai menjamurnya fenomena industrialisasi pendidikan, dimana seluruh proses pendidikan ditundukkan semata pada komersialisasi.

Adapun secara sederhana, ilmuwan yang bekerja di industri komersial dalam banyak kasus akan mengembangkan software yang bersifat proprietary. Sebagai contoh, sebuah pabrik farmasi, jika ingin memproduksi antibiotik dalam jumlah tertentu dan harga tertentu, memerlukan sistim kontrol produksi yang terautomatisasi.

Sistim produksi antibiotik pada reaktor kimia/bioreaktor akan terintegrasi dengan IT yang didesain secara proprietary. Software pengontrol reaktor diperlukan, agar parameter-parameter produksi antibiotik, seperti pH, suhu, tekanan, medium, dan lain-lain dapat dikontrol secara real time dan easy to use. Pengembangan sistim produksi antibiotik jelas sangat berhubungan erat dengan rahasia industri atau paten. Sebagai perlindungan paten sistim tersebut, maka aplikasi yang dikembangkan juga bersifat proprietary.

Namun sangat berbeda kecenderungan yang terjadi di perguruan tinggi dan lembaga penelitian non departemen (LPND). Kedua lembaga ini mendapatkan misi sosial sebagai misionaris sains-tek. Sebagai lembaga yang bersifat sosial, maka mereka diharuskan mengarahkan riset sains-tek untuk publik yang luas.

Salah satu cara untuk itu adalah dengan mengembangkan software open source. Sebagai contoh, perguruan tinggi dan LPND seringkali melakukan riset yang aplikasi langsung untuk industri boleh dibilang masih sangat jauh. Ini sering disebut juga sebagai riset dasar.

Contoh dari riset dasar misalnya studi mengenai keanekaragaman hayati kuman. Riset seperti ini memerlukan isolat kuman, untuk kemudian disekuensing DNA atau Protein. Hasil sekuensing tersebut belum tentu dapat langsung diaplikasikan ke Industri, karena output potensi komersialnya masih belum terlalu jelas. Program sekuensing DNA yang digunakan pada umumnya bersifat open source. Hasil sekuensing tersebut akan diserahkan pada suatu repository database yang juga bersifat open source, supaya dapat diunduh oleh publik secara cuma-cuma.

Open Source dalam Industri Berbasis Sains-tek

Proses scale up produk atau komoditi berbasis sains-tek dari skala laboratorium sampai dengan pilot plant memerlukan investasi yang sangat besar. Rentang waktu yang diperlukan untuk scale up merentang dari beberapa bulan untuk komoditi IT, dua tahun untuk komoditi bioenergi/kimia, dan sepuluh tahun untuk komoditi farmasi/kedokteran. Di luar IT, proses scale up pada bidang lain� jarang melibatkan tahapan kontrol, modeling dan automatisasi seperti yang sudah lazim dikenal IT.

Akibat absennya tahap tersebut, maka tidak terhitung investasi yang akhirnya menguap menjadi biaya pengembangan. Sebagai contoh, dalam industri farmasi, pada umumnya hanya satu dari sekian ribu senyawa kimia yang dapat dikembangkan menjadi obat yang dapat dipasarkan. Tidak jarang proses isolasi dan sintesis ribuan senyawa tersebut melibatkan waktu yang sangat panjang, pemborosan regen kimia yang merusak lingkungan, dan biaya yang sangat tinggi. Alhasil biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan obat tinggi, sehingga pasien harus membayar biaya lebih juga untuk itu.

Solusi dari masalah biaya tinggi tersebut adalah melibatkan IT secara total dan terintegrasi pada proses produksi agen farmasi, mulai dari desain, uji aktivitas, bahkan sampai uji klinis oleh dokter. Biaya yang dikeluarkan untuk isolasi dan sintesis senyawa kimia dapat dihemat dengan mengganti proses tersebut dengan computer modeling. Isolasi dan sintesis dapat dilakukan jika senyawa tersebut lolos uji modeling. Sistim ini memungkinkan pengembangan obat yang lebih murah dan terjangkau.

Bagi perusahaan farmasi tingkat internasional, membeli sistim proprietary untuk computer modeling adalah perkara biasa. Ini disebabkan dukungan dana mereka yang sangat kuat. Adapun untuk perusahaan farmasi lokal, diperlukan strategi cerdas untuk menghasilkan riset farmasi berkualitas dengan dukungan dana lebih terbatas. Solusi tersebut adalah menggunakan software open source.

Ilmu-ilmu pendukung farmasi klinis, seperti bioinformatika dan komputasi kimia, telah menyediakan software open source untuk pengembangan obat dan vaksin. Open source menjadi cukup umum pada riset farmasi di luar negeri, karena pengembangan awalnya berasal dari kampus atau lembaga penelitian milik pemerintah.

Open Source ke Depan

Kompetisi global yang demikian hectic dan kompetitf mengharuskan bangsa Indonesia mencari solusi ekonomis dan cerdas terhadap perkembangan industri sains-tek. Merambahnya IT pada bidang lain yang bukan domain tradisonalnya, seperti Bioenergi/Kimia dan Farmasi diharapkan memberikan nilai tambah pada setiap komoditi yang dihasilkan oleh industri lokal.

Dalam rangka ekonomisasi tersebut, software open source memegang peranan sangat penting. Harga terjangkau, atau bahkan gratis, menjadikan open source sebagai alternatif ekonomis yang terbaik untuk pengembangan industri sains-tek, ditengah krisis energi yang melanda negeri kita. Diharapakan aplikasi open source yang dikembangkan bangsa sendiri untuk proses produksi industri sains-tek dapat meningkatkan competitive value dari produk dalam negeri.

Ditulis oleh Arli Aditya Parikesit

Beliau adalah peneliti pada Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

One Response to “Open Source Perkuat Riset Sains Teknologi”

  1. Qinimain Zain October 8, 2008 at 7:14 am #

    (Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

    Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
    (Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

    APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

    Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

    Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

    JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

    Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

    Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

    Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

    KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

    Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

    Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

    TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

    TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

    Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

    KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

    Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

    Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

    Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

    LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

    BAGAIMANA strategi Anda?
    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: