Pedagang dan Nelayan

2 May

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri.
Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan
menyusuri tepian pantai. Terlihat Di sebuah dinding karang seseorang sedang
memancing, dia menghampiri sambil menyapa,
“Sedang memancing ya pak?”, sambil menoleh si nelayan menjawab,
“Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami”.

Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau sedikit
lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?”

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. “Apa gunanya buat saya
?” tanya si nelayan keheranan.

“Satu-dua ekor disantap keluarga bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan
ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan bapak
bisa lebih banyak lagi” katanya menggurui.

“Apa gunanya bagi saya?” tanya si nelayan semakin keheranan.

“Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil
tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, bapak bisa
saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada
penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan
menjadi seorang nelayan yang kaya raya”.

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan
kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia
dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin
merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk
diakal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, “Kalau
bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang
bapak mau”.

“Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?” tanya si nelayan.

“Bapak bisa melakukan hal yg sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur,
mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing”.

“Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu
berlibur baru memancing?”, kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin
heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk
menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.
— SAHABAT

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain.

Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan
oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan
alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang
diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari
dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran “bahagia”, masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali
kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini.

by Andri Wongso

One Response to “Pedagang dan Nelayan”

  1. ybandung May 5, 2008 at 1:20 pm #

    Betul banget Mas Anton .. sebuah kebahagiaan tidak memandang si kaya dan si miskin. Kebahagiaan bisa dirasakan oleh siapa pun yang penuh iklas mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya.

    Trims untuk sharing artikelnya dan salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: