“Smart Card” Diberlakukan Juni

28 Apr

Pengurangan Konsumsi BBM Harus Digalakkan

[JAKARTA] Pemerintah akan memberlakukan sistem pembelian bahan bakar minyak
(BBM) bersubsidi menggunakan kartu pintar (Smart Card), mulai Juni
Mendatang. Upaya yang dimaksudkan untuk menghemat konsumsi premium Dan solar
Bersubsidi tersebut, pertama kali akan diuji coba di Bali Dan Batam.


dikutip dari SUARA PEMBARUAN
Demikian diungkapkan Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak Dan Gas Bumi (BPH
Migas) Tubagus Haryono, kepada SP di Jakarta, Senin (21/4). Dia menjelaskan,
Saat ini pihaknya melakukan survei Dan sosialisasi kepada masyarakat, serta
Membuat proyek percontohan, untuk selanjutnya dievaluasi terlebih dahulu
Sebelum memberlakukan Smart Card di seluruh Indonesia.

“Kira-kira dalam sebulan ini akan segera dilaksanakan. Kami mengharapkan
Dengan diterapkannya Smart Card konsumsi BBM akan menjadi 35,5 juta
Kiloliter sesuai dengan APBN-P,” katanya.

Penanggung jawab program Smart Card BPH Migas, Eri Purnomohadi mengakui,
Meski telah disosialisasikan, di kalangan masyarakat masih terdapat pro Dan
Kontra terhadap penggunaan Smart Card. “Perlu kejelasan lebih lagi melalui
Pertemuan dengan tokoh masyarakat,” ujarnya.

Eri mengungkapkan, jumlah kendaraan terus bertambah, sehingga konsumsi BBM
Meningkat. Data BPH Migas menunjukkan, laju pertumbuhan konsumsi BBM untuk
Transportasi mencapai 21 persen. Konsumsi BBM terbanyak di Pulau Jawa
Sebanyak 62 persen, Sumatera sekitar 20 persen, Dan sisanya daerah lainnya.

Sementara itu, untuk program pemberlakuan kartu kendali, Eri menjelaskan,
Penggunaannya telah dilaksanakan di Semarang Dan sekitarnya mulai April.
Kartu kendali merupakan alternatif lain mengurangi konsumsi BBM, terutama di
Daerah yang belum diberlakukan konversi minyak tanah ke gas.

Tidak Berpengaruh

Terkait rencana pemberlakuan Smart Card, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik
Perminyakan Indonesia (IATMI) Kuswo Wahyono menilai, langkah itu tidak akan
Berpengaruh banyak terhadap penghematan BBM. Penggunaan Smart Card hanya
Persoalan teknis untuk mempermudah pembayaran, bukan menghemat BBM.

“Penghematan konsumsi BBM hanya dapat dilakukan jika penggunaan kendaraan
Dikurangi, Dan hal itu membutuhkan bantuan Dan komitmen dari masyarakat,”
Jelasnya.

Menurut Kuswo, konsumsi BBM di Tanah Air dua kali lipat dari produksi neto
Minyak nasional, sehingga Indonesia harus mengimpor. Tren konsumsi BBM akan
Terus meningkat setiap tahun.

Dengan harga minyak mentah dunia yang mencapai US$ 120 per barel saat ini,
Ekuivalen dengan Rp 7.000 per liter. Harga itu belum termasuk biaya
Pengolahan Dan transportasi.

“Bisa dibayangkan, berapa pemerintah harus menyubsidi BBM jika harga premium
Saat ini Rp 4.500 per liter, Dan minyak tanah Rp 2.500 per liter. Pemerintah
Membutuhkan Dana yang besar untuk menyubsidi BBM,” paparnya.

Ditambahkan, perlu peningkatan pendapatan masyarakat agar masyarakat mampu
Membeli BBM, pentingnya melaksanakan energi alternatif Dan penghematan
Migas. Iklim investasi yang kurang kondusif serta tidak adanya kepastian
Hukum membuat investor ragu menanamkan modalnya ke Indonesia. “Indonesia
Juga kekurangan tenaga ahli Dan Dana sehingga kesulitan melakukan eksplorasi
Sumber daya alam,” katanya.

Tidak Naikkan Harga

Secara terpisah, pengamat migas dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, Dan
Penerangan Ekonomi Dan Sosial (LP3ES) Pri Agung Rakhmanto meminta pemerintah
Tidak menaikkan harga BBM, sebelum bisa membenahi data kependudukan terkait
Penerapan program subsidi langsung. Melihat kondisi ekonomi masyarakat saat
Ini, terutama kalangan tidak mampu, kenaikan harga BBM dipastikan akan
Semakin membebani.

Dikatakan, kenaikan harga BBM bisa diberlakukan bila pemerintah sudah
Memiliki data kependudukan yang akurat untuk menentukan penyaluran subsidi
Langsung. Dengan demikian, subsidi BBM benar-benar hanya dinikmati oleh
Golongan masyarakat yang berhak, bukan semua lapisan apalagi golongan
Masyarakat yang mampu.

Selain itu, sebelum memilih opsi menaikkan harga BBM, pemerintah bisa
Menekan alpha atau komponen biaya distribusi Dan marjin Pertamina dari
Pendistribusian BBM bersubsidi hingga lima persen, dari besaran alpha saat
Ini yang mencapai sekitar 13 persen.

Dari perkiraan anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak Dan Gas Bumi (BPH
Migas) Ibrahim Hasyim, setiap satu persen penurunan alpha tersebut,
Diperkirakan pemerintah bisa menghemat sekitar Rp 1 triliun.

“Selain itu, pemerintah juga bisa mengajak daerah penghasil migas berbagi
Beban dengan cara menahan dulu bagi hasil migas ke daerah untuk APBN, sambil
Membenahi data kependudukan untuk menerapkan subsidi langsung. Setelah itu,
Baru cukup fair untuk menaikkan harga BBM,” ujar Pri Agung, Selasa (22/4).

Di Yogyakarta, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, kenaikan
Harga minyak mentah dunia yang makin tak terbendung, akan menggemukkan beban
Subsidi pemerintah. Untuk itu, pengurangan konsumsi BBM harus digalakkan.

“Pilihan untuk penghematan energi harus dilakukan segera. Termasuk mendorong
Konversi minyak tanah ke gas yang akan mengurangi besarnya subsidi,”
Ujarnya.

Dia menjelaskan, penghitungan subsidi yang diberikan oleh pemerintah
Nantinya akan memperhatikan rata-rata kenaikan harga tahunan. “Kita akan
Monitor sesuai harga minyak yang terus berubah Dan bergerak. Situasi itu
Ditentukan pada harga rata-rata tahunan. Berapa pengeluaran pemerintah yang
Sebenarnya dengan subsidi akan terlihat,” jelas Menkeu. [DLS/H-13/152

3 Responses to ““Smart Card” Diberlakukan Juni”

  1. parmis April 28, 2008 at 12:10 pm #

    gak setuju ah pakai kartu pintar maunya rakyat yang pjntar?

  2. Myzone May 29, 2008 at 10:15 pm #

    SmartCard gak seperti namanya adalah rencana yg paling konyol dari pemerintah.

    1. Dijamin 101% akan muncul makelar2 BBM yg menjual BBM di harga tengah antara BBM subsidi dan non Subsidi.
    2. Angkot, truk, bis, dan kendaraan niaga lainnya serta spd motor juga dijatah. Banyangkan bgmn kondisi tranportasi kita saat diterapkan?
    3. Berapa jatah perhari yang ideal? Berarti tiap2 hari mesti antri? berapa pemborosan waktu yang terjadi jika semua mesti mengisi BBM tiap hari?
    4. dll ekses negatif yang timbul?

    Yang lebih efektif untuk menyiasati sisa Subsidi yang masih ditanggung pemerintah pasca kenaikan BBM ini dgn USD 120 / barrel adalah dengan memberlakukan PAJAK PROGRESIF untuk kendaraan pribadi sesuai kelas, harga dan ccnya.

    Contoh:
    Xenia Rp. 100juta, Pajak Tahunan 5%, pajak = 5juta/tahun
    Innova Rp. 200juta, pajak Tahunan 7,5%, pajak = 15juta/thn
    CRV Rp.300 juta, pajak Tahuan 10%, pajak = 30juta/tahun
    BMW Rp. 500juta, Pajak Tahuan 15%, pajak = 75juta/tahun
    dst sampai 20% untuk mobil2 dgn harga jual diatas 500juta

    Bayangkan dgn mobil pribadi sebanyak 10juta kendaraan dan rata2 pajak tahunan Rp. 10juta/tahun saja, maka pemerintah akan mendapatkan Rp. 100 TRILYUN. Uang ini dipakai untuk mensubsidi BBM buat angkot, Truk, Bis, kendaraan niaga lainnya, spd motor, Mesin perahu nelayan, mesin2 traktor petani, dsb.

    Sehingga tidak ada kenaikan BBM lagi. Jika ada pemilik kendaraan pribadi yang protes, suruh naik spd motor aja. Dah enak2 pake AC, dgr audio tape, duduk di jok kulit buaya, masih omonk gak sanggup bayar? Kebangetan.

    Dgn sistem pajak beginian, tidak akan timbul ekses negatif maupun manipulasi. Setiap yang mau memperpanjang atau mengurus STNK baru, mesti menyertakan bukti penyetoran pajak tsb ke Samsat. Penyetoran dilakukan di Bank yg ditunjuk pemerintah langsug ke rek Pemerintah. Jadi tidak bakal terjadi manipulasi.

    Anggaran 100 TRilyun tsb sebagian dapat dipakai untuk membangun prasara tranportasi massal yang nyaman, aman, dan bersih diseluruh Indonesia secara bertahap.
    Monorail? 4 Trilyuun? Maaaaah, keciiiiiiiil. Gak perlu merenggek2 ke negara lain. Ambil aja dari 100Trilyun tsb.

  3. aWi June 2, 2008 at 3:54 pm #

    bener. pemerintah gak serius. ceritanya mau nyelametin uang rakyat, tapi yg jadi korban rakyat duluan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: