Bandung – Pertumbuhan penjualan motor tanpa gigi alias skutik nampaknya makin menggila saja. Data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terlihat kalau varian ini menjadi satu-satunya varian yang mengalami pertumbuhan dibanding tahun lalu.
Hal itu berbada dengan kelas motor bebek dan sport yang penjualan total di tahun 2009 in mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Sejak Januari sampai September 2009 skutik dari seluruh merek di Indonesia telah berhasil membukukan penjualan hingga 1.543.905 unit. Angka itu meningkat
dibandingkan dengan penjualan varian ini di waktu yang sama pada 2008 silam yang hanya membukukan prestasi 1.174.464 unit saja.
Sementara penjualan motor bebek dari semua merek turun dari 3.108.312 unit di
periode Januari-September tahun 2008 lalu menjadi hanya 2.165.949 unit di
periode yang sama tahun ini.
Begitu pula dengan penjualan motor sport yang juga menurun dari 521.978 unit
menjadi 429.857 unit di periode Januari-September tahun 2008 dan 2009.
Dengan pencapaian tersebut hingga bulan September silam, skutik mampu merebut
market share hingga 37.3 persen dari total penjualan motor di Indonesia yang
mencapai 4.139.711 unit.
“Skutik malah diperkirakan mampu merebut market share hingga 39 persen dengan
angka penjualan mencapai 2.1-2.2 juta unit hingga akhir tahun nanti,” ujar
Direktur Marketing PT Astra Honda Motor (AHM) di dalam workshop Group Astra di
Bandung, Jumat (16/10/2009).
Pertumbuhan tersebut termasuk fantastis. Sebab di tahun 2006 silam, skutik hanya menjadi ‘anak bawang’ dengan penjualan hanya 373.186 unit dengan market share sebanyak 8,4 persen saja.
Begitu pula ditahun 2007 yang hanya berhasil merebut market share sebesar 18.4
persen dengan penjualan total 860.865 unit.
Pertumbuhan tersebut tidak lantas melemah, karena di tahun berikutnya, penjualan skutik ternyata semakin menggila dengan perolehan 1.613 unit atau 26 persen dari total pasar motor di tahun 2008 itu.
Bisa jadi, bila pertumbuhan penjualan skutik terus seperti ini, motor bebek yang saat ini masih mendominasi penjualan akan segera lengser dari tahta yang telah lama mereka genggam.
dikutip dari tulisan Syubhan Akib di detikOto
Bagaimana TVS, tertarik ikut bersaing di Motor Matik?
Jakarta – Bagi Anda yang mau membeli ban, jangan hanya melihat dari sisi harga, tapi faktor standar yang berkualitas mutlak diperhatikan.
Departemen Perindustrian mensinyalir produk ban non-standar masih banyak beredar di pasar ban dalam negeri. Diantaranya produk-produk ban asal India dan China.

Departemen Perindustrian telah memberlakukan SNI wajib bagi 5 jenis komoditi ban melalui SK Menperindag No 595/MPP/Kep/9/2004. Yaitu untuk jenis ban mobil penumpang, ban truk dan bus, ban truk ringan, ban sepeda motor dan ban dalam kendaraan bermotor.
“Upaya penerapan standar dimaksudkan untuk menyaring impor dari China karena banyak kecelakanan termasuk dari ban India dan China,” kata Direktur Industri Kimia Hilir Departemen Perindustrian Tony Tanduk di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (14/10/2009).
Ia menjelaskan penerapan SNI wajib untuk ban telah berlaku sejak April 2006, saat ini pihaknya akan menggalakkan pengawasan ban non standar karena terkait keselamatan para pengendara yang cenderung meningkat karena kecelakaan disebabkan oleh ban.
“Misalnya produk ban India juga, semuanya tidak bagus. Maka pengetatan pengawasan akan mempercepat penyaringan,” jelas Tony.
Ia memastikan ancaman produk non standar, sangat besar berasal dari China dan India, selain itu juga dari beberapa negara produsen ban lainnya yang menjadi penghasil karet alam seperti Thailand, Malaysia dan India.
“Secara kapasitas kita mampu memenuhi produk ban dalam negeri, tapi masalah masih adanya impor itu karena faktor harga yang lebih miring 30-40%, dengan kualitas yang belum terjamin,” katanya.
dikutip dari tulisan Suhendra di detikOto
Mesin mobil vs mesin sepeda motor, kendati sama-sama 4-langkah (stroke), namun oli yang digunakannya berbeda. Waktu pergantian pada sepeda motor lebih cepat dibandingkan mesin mobil.

Oli mobil v Oli motor
Umumnya, buat mobil pergantian dianjurkan setiap 5.000 km. Sedangkan sepeda motor 2.500 km atau setengah dari jangka penggantian mesin mobil. Utamanya, untuk oli mineral. Oli sintetik bisa lebih panjang lagi.
Kerja Keras
Pertanyaan yang bisa muncul, mengapa demikian? Padahal, ukuran mesin sepeda motor lebih kecil dibandingkan dengan mesin mobil. Bahkan berdasarkan SAE, yang digunakan juga berbeda sedikit. Mobil masa kini, cenderung menggunakan oli dengan SAE 10W-40. Sedangkan motor 15W-50.
Kendati tugasnya sama, melumasi, mendinginkan dan menjaga mesin dari karat dan kerusakan, pada sepeda motor, kerja oli lebih berat. Oli tidak hanya melumasi seperti kruk as (crankcase), poros kem (camshaft) dan katup di kepala silinder, piston serta dinding silinder, juga melumasi transmisi dan kopling. Tepatnya oli harus bekerja lebih keras!
Pada mobil, oli mesin hanya digunakan untuk melumasi komponen mesin, seperti kruk as, poros kem, katup, piston dan dinding silinder. Transmisi terpisah dari mesin.
Putaran Tinggi
Faktor lain yang menyebabkan kerja oli pada mesin sepeda motor lebih keras adalah karakteristik atau kondisi kerjanya. Mesin sepeda motor bekerja pada putaran lebih tinggi. Baik saat stasioner maupun ketika dikebut. Kalau mesin mobil 1.300 cc, putaran stasionernya 900 rpm, motor 110 cc, 1.200 rpm. Tenaga maksismal mobil diperoleh pada kebanyakan 6.000 rpm, motor mencapai 7.000.
Pendingin
Sistem pendingin mesin juga ikut mempengaruhi umur pakai oli. Pada mesin mobil, pendingin adalah cairan atau coolant yang cepat membuang panas. Di samping itu, juga dilengkapi radiator dan kipas.
Pada sepeda motor, kebanyakan mengandalkan sirip-sirip atau udara di sekitarnya. Kalau pun ada tambahan, ya… kipas seperti yang banyak digunakan pada skutik sekarang ini. Hanya mesin skutik atau motor tertentu yang dilengkapi dengan pendingin cairan. Atau bila tidak ada, tambahanya adalah pendingin untuk oli.
Jadi, berdasarkan kondisi seperti yang dijelaskan di atas,pergantian oli pada mesin sepeda motor minimum setiap 2.500 km. Sedangkan mobil, minimum 5.000 km.
dikutip dari Kompas Online!
Jakarta – Ingin memperkuat eksistensinya di pasar roda dua tanah air, PT Bajaj Auto Indonesia (BAI) akhirnya melakukan penyegaran terhadap varian sport andalannya, Bajaj Pulsar 180 DTS-i.
Varian yang pertama kali dihadirkan BAI di Indonesia ini telah mengalami perubahan besar dari model awalnya. Seperti panjang baru 1.350 mm, sehingga membuat Pulsar DTSI-i 180 baru ini terlihat lebih kokoh dan stabil.

“Pembaruan ini dilakukan untuk membuat Pulsar 180 menjadi lebih sporty namun tetap nyaman digunakan di dalam kota,” ujar Presiden Direktur BAI, K.S. Grihapathy, di Hotel The Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin, (5/10/2009)
Fitur fitur baru pun disematkan pada varian sport baru BAI ini, seperti ban tubeless, fuel tank flaps, dan clip on handle bars. Sektor mesin pun sudah dibenahi, sehingga memberikan tambahan 0,5 dk, dengan power hingga 17,02 PS pada 8.500 rpm.
Dengan mengusung harga yang sama, pada kisaran Rp 18 jutaan, Pulsar 180 tersedia dalam empat warna baru, Midnight Black, Plasma Blue, Candi Wine Red, dan Misty Grey Silver.
Dengan penyegaran ini, BAI sepertinya berharap untuk bisa segera bersaing kembali di pasar roda dua tanah air yang memiliki pesaing pesaing yang tangguh seperti Honda Tiger dan Yamaha V-Ixion.
dikutip dari tulisan Bagja Pratama di detikOto
Jakarta – Produsen motor asal India, TVS terus melakukan inovasi dengan meluncurkan layanan baru yang mereka beri nama TVS Mobile Service (TMS).
Dengan layanan ini, para pemilik sepeda motor TVS akan semakin dimanjakan karena mekanik handal TVS dengan sigap akan siap datang ke tempat pemilik sepeda motor TVS.

Siap mendatangi motor TVS anda
Untuk sementara wilayah jangkauan layanan ini masih di Jakarta Barat, Surabaya dan Kediri.
Namun tidak lama lagi konsumen di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) pun akan segera merasakannya.
Dengan layanan yang memiliki tagline “TVS Servis Siap Datang” para konsumen TVS Neo 110 cc, TVS Apache RTR 160 cc dan TVS RockZ 125 cc hanya tinggal menelepon dan mekanik pun akan segera datang ke rumah konsumen.
“Para konsumen yang memiliki aktivitas yang tinggi, tidak memiliki waktu senggang yang cukup untuk pergi ke bengkel serta jika konsumen dalam kondisi darurat, dapat memanfaatkan layanan TVS Servis Siap Datang ini,” ungkap Corporate Communications TMCI Nurlida Fatmikasari, Rabu (7/10/2009).
Asyiknya lagi, layanan yang mempunyai jam operasional dari jaam 6 pagi sampai 9 malam ini pun ternyata menerapkan biaya jasa servis yang tidak berbeda jauh dengan layanan di bengkel resmi mereka yakni hanya berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 ditambah biaya jasa mekanik mulai dari Rp 10.000,-.
“Dengan layanan ini, TVS memberikan kemudahan bagi para pemilik motor TVS untuk dapat menikmati servis motor tanpa harus datang dan mengantri di bengkel,” pungkas Nurlida.
Dikutip dari tulisan Syubhan Akib di detikOto
Ditunggu di Bandung ahhh….
PT Bajaj Auto Indonesia (BAI), produsen motor merek Bajaj, menginvestasikan US$ 60 juta sejak 2006 untuk merintis pembangunanpabrik di kawasan Cikarang, Jawa Barat berkapasitas 200 ribu unit setahun.Mulai tahun depan, produsen motor sport ini akan memasarkan motor versi rakitan lokal (completely knock down/CKD). Selama ini motorBajaj yang dijual di Tanah Air diimpor dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) dari India. “Kami akan segera mengadakan pertemuan dengan seluruh direksi membicarakan pengaktifan pabrik pada Desember, dan berharap produksi bisa mulai berjalan awal tahun. Tunggu saja undangan dari kami,” ujar Daily General Manager Sales and Marketing BAI Vaibhav Gupta di Jakarta, Senin (5/10).

BAI
Menurut Gupta, persiapan pabrik dan perakitan CKD sudah dimulai sejak pertama kali Bajaj masuk ke pasar domestik pada 2006. Dalam lima tahun pascamerakit motor, Bajaj menargetkan dapat masuk ketiga besar pasar motor nasional yang kini dikuasai oleh merek Jepang. Selain Bajaj, produsen motor India yang sudah menjamah Indonesia adalah TVS. Tidak seperti TVS yang juga menggarap pasar bebek (cub), Bajaj saat ini berkonsentrasi penuh pada segmen sport. Hingga kini Bajaj memiliki tiga varian motor sport, yakni XCD 125, Pulsar 180, dan Pulsar 200.
Pihak Bajaj menilai, penjualan motor sport cukup stabil dalam lima tahun terakhir dengan porsi terhadap total pasar mencapai 8-10%. Di samping itu, Bajaj ingin memperkuat citra Bajaj sebagai motor yang andal, memiliki layanan purna jual yang baik dan nilai jual kembali yang tinggi.
Data yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan, pasar motor sport hingga Agustus 2009 mencapai 320.650unit atau mengambil porsi 8,6% dari total pasar sebesar 3,718 juta unit. Yamaha menjadi pemimpin pasar dengan volume penjualan 140.899 unit disusul Honda (130.110 unit), Kawasaki (30.819 unit), dan Suzuki(18.822 unit).
Di sisi lain, BAI meluncurkan Pulsar 180 DTS-i versi facelift. Bajaj menambah panjang Pulsar 180 menjadi 130 milimeter (mm) dan membelah jok pengendara dan penumpang (split seat) untuk menciptakan penampilan yang lebih sporty. BAI melepas motor ini di harga sekitar Rp 18 juta. Gupta enggan menyebutkan target penjualan Pulsar 180 dengan alasan belum menjadi anggota AISI.
Bajaj Pulsar andalan BAI
Sebelumnya TVS yang diageni PT TVS Motor Company Indonesia resmi bergabung dengan AISI mulai November 2009. AISI menilai, TVS sudah memenuhi kriteria untuk menjadi anggota seperti memiliki fasilitas produksi, menciptakan lapangan kerja dan memberi pemasukan pajak kepada pemerintah dan ikut mengembangkan pasar motor nasional.
“Sekarang kami tengah menyiapkan surat untuk meninjau pabrik milik TVS dan tinggal menunggu persetujuan mereka saja. Kami harapkan November sudah akan bisa bergabung,” ujar Ketua AISI Gunadi Sindhuwinata.
dikutip dari Edo Rusyanto BLOG
Ini sebenarnya kisah lama (2 bulan lalu). Saat si Black Macho dioperasi kecil di bagian urat nadinya, alias Tali Throttle yang lepas. Berikut cuplikan rekaman singkat saat di meja operasi.

black macho is half naked

Tangan terampil Bung Joe

Kabel Throttle yg diganti

Ini nih, yg sering lepas Sudah Dol
Sekarang makin mantab saja si Blackie.
Beginilah tampilan baru dari TVS Flame alias New Flame SR125. Di India sudah muncul yang baru, di Indonesia boro-boro yang baru, yg versi lama pun, seperti tertiup angin laut. Hehehehe. Are Gonna to ROCKZ…???

newFlame SR125 Red

newFlame SR125 Black

newFlame SR125 Blue
Ada yang baru:

NewFlame new Look
Bagian Tangki yang keren dan fungsional

Bagian Tangki yang bisa nyimpan barang
Sementara Ban semakin lebar

Ban Yang semakin mencengkram jalanan
Mesinnya dilengkapi dengan teknologi CCVTI (Controlled Combustion Variable Timing Intelligent) yang menawarkan kombinasi menguntungkan power dan jarak tempuh yang didukung oleh penampilan yang keren.

Teknologi mesin yang baru
Dan beginilah tampilan Dashboard anyarnya … keren

Dashboard Keren new Flame
Spesifikasi Teknis:

Technical Specs NewFlame

Dimension NewFlame
How do I Look? di India ditawarkan Rs 47.550 (atau sekitar Rp.9,6 juta saja)
Jeda singkat, tampaknya, sudah berakhir untuk Sepeda Motor Suzuki india sekarang. Anak perusahaan Jepang kini bersiap-siap untuk memenuhi dan bahkan melampaui harapan India membunuh para pengendara sepeda motor dengan peluncuran baru, semua dalam tahun fiskal yang akan datang.

Sebagai langkah awal, mereka akan meluncurkan produk yang sama sekali baru pada tingkat sepeda motor dan mengikutinya dengan sepeda utama lain di segmen 150 + cc.
Mereka juga mempelajari kelayakan peluncuran skuter gearless lain pada 2011. Irisan kue tersisa akan menjadi milik GSX-1000R, Superbike terbaru yang siap untuk bergabung dengan saudara kandung, yang legendaris Intruder Hayabusa dengan segera, dalam bentuk CBU biasa.
Suzuki India saat ini memiliki lima model penjualan; 125 gearless Akses skuter, 125cc Zeus, 150cc GS150R dan dua sepeda internasional, yang GSX-1300R Hayabusa dan Intruder.
Perusahaan ini berencana untuk impas pada akhir tahun fiskal ini dan mulai membuat keuntungan setelahnya.Mereka juga berencana untuk memperluas kapasitas produksi pabrik mereka di Gurgaon untuk memenuhi permintaan, terutama untuk sepeda motor GS150R.
ditulis oleh Saeed Akhtar di www.bikeindia.in
Jakarta – Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) tak mau main-main menerima anggota barunya. AISI pun menyiapkan syarat ketat bagi produsen motor yang mau menjadi anggota.

Pabrik TVS
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum AISI, Gunadi Sindhuwinata ketika dihubungi detikOto.
Gundai menegaskan jika dirinya tidak sembarangan menetapkan produsen roda
dua yang bermain di Indonesia menjadi anggota AISI.
Gunadi sendiri sangat selektif terhadap bakal calon (balon) anggota AISI. “Apa yang kita inginkan tentunya anggota AISI dapat bekerjasama di industri motor Indonesia,” kata Gunadi.
Untuk itu lanjut Gunadi, kita mencari produsen sepeda motor yang berkompeten dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia dan tidak hanya mengambil keuntungan berbisnisnya.
“Yah kita harus selektif dong, dan mencari mana yang lebih kompeten. Tapi bagaimana pun juga harus melihat suatu keharusan dari pihak AISI, dan kita tidak mau berdasarkan laporan saja. Harus cek lapangan,” tegasnya.
Persyaratan utama yakni produsen harus memiliki tempat produksi di dalam negeri yang meliputi perakitan engine, painting dan assembling.
“Mereka harus punya semua itu. Kita tidak ingin mempunyai industri roda dua yang asal-asalan,” cetusnya.
Salah satu produsen motor yang sudah mengajukan niat untuk bergabung adalah produsen motor India, TVS Motor Company.
Jika pengajuan TVS Indonesia disetujui, PT TVS Motor Company Indonesia pun ternyata sudah memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas lokal konten sepeda motornya hingga 80 persen.
“Saat ini kandungan lokal konten kita sudah mencapai 50 persen, kedepannya kita berencana akan meningkatkan hingga 80 persen,” imbuh Corporate Communication TVS Nurlida Fatmikasari.
TVS pun, lanjutnya sudah melengkapi beberapa persyaratan yang ditentukan oleh pihak AISI.
“Kita sudah benar-benar siap dengan syarat yang ditentukan AISI, saat ini kita sedang nunggu proses ke arah itu,” kata Mieke, panggilan akrab Nurlida.
Menurutnya, beberapa persyaratan seperti pabrik rakitan di Indonesia dan
ketentuan lainnya di dalam negeri sudah direncanakan dengan sangat matang oleh PT TVS Indonesia.
“Sebut saja pabrik, kita sudah dirikan di dalam negeri. Selain itu ada beberapa persyaratan lainnya yang sudah kita penuhi,” ujar Mieke.
Mengenai pengajuan anggota itu, Gunadi menambahkan pengajuan keanggotaan TVS saat ini dalam tahap proses, tetapi waktu sedikit tertunda akibat libur hari raya idul fitri. “Proses agak tertunda akibat libur panjang,” ungkap Gunadi.
Namun, seperti diungkapkan Gunadi tadi, TVS haruslah memenuhi beberapa persyaratan bila ingin menjadi anggota AISI.
Selain itu pihak TVS juga harus menguntungkan dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan, membayar pajak kepada pemerintah dan ikut mengembangkan pasar motor domestik bersama anggota AISI lainnya.
Dikutip dari tulisan Muhamad Ikhsan di detikOto
Dalam sengketa paten antara Bajaj Auto Limited dengan TVS Motor Company Limited, Mahkamah Agung di India telah memungkinkan TVS India untuk menjual busi kembar TVS-Flame pada tanggal 16 September 2009.

NewFlame SR125
Perseroan akan mengambil langkah-langkah untuk mendapatkan semua sertifikasi yang diperlukan di bawah hukum Taurat seperti di bawah Aturan Kendaraan Bermotor Tengah, 1989, sebelum memulai penjualan busi kembar TVS-Flame.
[dikutip dari TVS motor company India Website]
Pertanyaan usil aja. Saya suka perhatikan huruf W. Orang bule (yang berbahasa Inggris) bilang kalo di-spell double u (baca: dobel yu). Kenapa gak disebut double v (baca: dobel vi), ya? Kan secara fisik, itu seperti penyatuan huruf V alias VV atau vv (mirip gak W ?) Ketimbang UU atau uu.
Tanya kenapa?
Iseng. Gak usah dibahas.
Setelah kurang lebih seminggu si Black Macho nongkrong di garasi, rasanya pantat ini sudah ingin duduk saja di jok blakie.

si Black Macho
Ya, seminggu ini saya lebih banyak pakai Red Rose, karena tumpangan ini lebih luas dan memuat banyak penumpang untuk pergi kesana kemari, dalam rangka mudik, silaturahmi, dan bepergian untuk suatu keperluan bersama keluarga kecil kami.
Senin, 28 September 2009 akan memulai hari kembali bersama Blakie. Saat itu, saya kembali memulai rutinitas sebagai pegawai kantoran.
Can’t Hardly ride, Blakie.
[Work for ride]
Walaupun telat. Saya mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Kepada seluruh pengunjung Blog. Barangkali ada kekhilafan dan kesalahan dalam tulisan di Blog ini.
Tiada lain karena kekurangan penulis dan tentunya tidak dalam kesengajaan.
Ini sudah tiba kembali di Bandung. Will be back in few day going to the Office, dailly activities… routine.
Mudah-mudahan semangat kembali membara dalam menulis informasi motor lawas, baru, maupun gossip-gossip seputar motor.
See you again, buddy.
Jakarta – Kehadiran motor sport anyar dari Yamaha, Byson, memang sudah tinggal menunggu waktu saja, soalnya Yamaha tengah menguji motor ini. Namun apakah rival abadi pabrikan berlambang garpu tala ini yakni Honda akan diam saja. Sepertinya tidak.

Honda Unicorn
Sebab, Honda yang menjadi musuh abadi Yamaha, selain sedang menggodok rencana peluncuran CBR 150 versi CKD dikabarkan juga sedang menyiapkan sebuah varian penyegar untuk Mega Pro yakni Unicorn.
Jika kabar itu benar maka tentunya pasar motor Indonesia mengalami penyegaran lagi. Soalnya motor yang merupakan motor asal India ini secara kasat mata memang memiliki penampilan yang secara basic mirip dengan Mega Pro, namun terlihat lebih segar dari pendahulunya tersebut.
Lihat saja bentuk batok lampu Unicorn yang dibuat lebih up to date, jauh dari kesan jadul Mega Pro yang masih pede mempertahankan lampu bulatnya.
Belum lagi suspense belakang Unicorn yang telah menganut system monoshock.
Dengan kelebihan kemampuan efisiensi konsumsi bensin layaknya motor Honda
lainnya.
Karena itulah tidak heran bila muncul pandangan, Unicorn merupakan masa depan dari Mega Pro dan akan dikeluarkan pada 2010 mendatang. Terlebih, bila kita melihat seluruh barisan samurai Honda yang ada, saat ini hanya Mega Pro sajalah yang masih belum dipermak oleh PT Astra Honda Motor (AHM).
Data Teknis Unicorn:
Mesin: 149,1 cc, 4 langkah, air cooled OHC, Single silinder
Power: 13,3 bhp pada 8.000 rpm
Torsi: 1,3 kg/m pada 5.500 rpm
Akselerasi (0-60 km/jam): 5 detik
mileage: 60 Km/liter
dikutip dari tulisan Syubhan Akib di detikOto







