Sejarah Sepeda Motor di Indonesia

31 Oct

Sepeda motor memiliki sejarah yang sangat panjang di negeri ini. Sepeda motor bahkan sudah hadir sejak negara ini berada di bawah pendudukan Belanda dan masih bernama Hindia Belanda, Nederlands Indie. Data yang ada menyebutkan, sepeda motor hadir di Indonesia sejak tahun 1893 atau 115 tahun yang lalu.

Foto: 1924: Frits Sluijmers dengan sepeda motor Brough Superior menaiki tangga dalam perjalanan menuju Kawah Idjen

Uniknya, walaupun pada saat itu negara ini masih berada di bawah pendudukan Belanda, tetapi orang pertama yang memiliki sepeda motor di negeri ini bukanlah orang Belanda, melainkan orang Inggris. Dan, orang itu bernama John C Potter, yang sehari-hari bekerja sebagai Masinis Pertama di pabrik gula Oemboel (baca Umbul) Probolinggo, Jawa Timur.

Dalam buku Krèta Sètan (de duivelswagen) dikisahkan bagaimana John C Potter memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman.

Sepeda motor itu tiba pada tahun 1893, satu tahun sebelum mobil pertama tiba di negara ini. Itu membuat John C Potter menjadi orang pertama di negeri ini yang menggunakan kendaraan bermotor.

Sepeda motor buatan Hildebrand und Wolfmüller itu belum menggunakan rantai, roda belakang digerakkan secara langsung oleh kruk as (crankshaft) . Sepeda motor itu belum menggunakan persneling, belum menggunakan magnet, belum menggunakan aki (accu), belum menggunakan koil, dan belum menggunakan kabel-kabel listrik.

Sepeda motor itu menyandang mesin dua silinder horizontal yang menggunakan bahan bakar bensin atau nafta. Diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk menghidupkan dan mestabilkan mesinnya.

Pada tahun 1932, sepeda motor ini ditemukan dalam keadaan rusak di garasi di kediaman John C Potter. Sepeda motor itu teronggok selama 40 tahun di pojokan garasi dalam keadaan tidak terawat dan berkarat.

Atas bantuan montir-montir marinir di Surabaya, sepeda motor milik John C Potter itu direstorasi (diperbaiki seperti semula) dan disimpan di kantor redaksi mingguan De Motor. Kemudian sepeda motor antik itu diboyong ke museum lalu lintas di Surabaya, yang kini tidak diketahui lagi di mana lokasinya.

Seiring dengan pertambahan jumlah mobil, jumlah sepeda motor pun terus bertambah. Lahirlah klub-klub touring sepeda motor, yang anggotanya adalah pengusaha perkebunan dan petinggi pabrik gula. Berbagai merek sepeda motor dijual di negeri ini, mulai dari Reading Standard, Excelsior, Harley Davidson, Indian, King Dick, Brough Superior, Henderson, sampai Norton. Merek-merek sepeda motor yang hadir di negeri ini dapat dilihat dari iklan-iklan sepeda motor yang dimuat di surat kabar pada kurun waktu dari tahun 1916 sampai 1926.

1914: Para pengendara sepeda motor yang tergabung dalam Motor Touring Club tengah berpose di Bragaweg (Jalan Braga), Bandoeng

FW Pijnacker Hordijk, Administratur Bantool, di kediamannya di Djocja. Ia merupakan penggemar mobil. Ia memiliki beberapa mobil dan sebuah sepeda motor FN

1906: FW Pijnacker Hordijk, Administratur Bantool, di kediamannya di Djocja. Ia merupakan penggemar mobil. Ia memiliki beberapa mobil dan sebuah sepeda motor FN

Pada masa itu, di negeri ini juga hadir sepeda motor listrik beroda tiga yang menggunakan tenaga baterai, yang bernama De Dion Bouton Tricycle buatan Perancis. Sepeda motor listrik beroda tiga itu juga digunakan untuk menarik wagon penumpang. Sepeda motor lain yang juga digunakan untuk menarik wagon adalah sepeda motor Minerva buatan Belgia.

H. OHerne mengendarai sepeda motor listrik beroda tiga, Dion Bouton, di Semarang. Duduk di wagon belakang, istri dan kakak iparnya

1899: H. O'Herne mengendarai sepeda motor listrik beroda tiga, Dion Bouton, di Semarang. Duduk di wagon belakang, istri dan kakak iparnya

Sepeda motor Minerva milik J. Blackstone di Poerbolinggo, Karesidenan Banjoemas. Istrinya duduk di wagon belakang

1902: Sepeda motor Minerva milik J. Blackstone di Poerbolinggo, Karesidenan Banjoemas. Istrinya duduk di wagon belakang

Lintas Jawa
Tidak mau kalah dengan pengendara mobil, pengendara sepeda motor pun berupaya membukukan rekor perjalanan lintas Jawa dari Batavia (Jakarta) sampai Soerabaja (Surabaya) yang berjarak sekitar 850 kilometer. Namun, tidak seperti rute mobil yang dicatat secara rinci, rute sepeda motor agak umum. Hanya disebutkan dari Batavia kea rah Bandung, Semarang, Blora, Cepu (Tjepu), menuju Surabaya.

Gerrit de Raadt berpose dengan sepeda motor Rudge di Malang. Dengan sepeda motor Reading Standar pada tahun 1917, ia pertama kali membukukan rekor perjalanan Batavia-Soerabaja dengan waktu 20 jam dan 45 menit. Gerrit tewas pada tahun 1934 dalam kecelakaan saat berlayar

1932: Gerrit de Raadt berpose dengan sepeda motor Rudge di Malang. Dengan sepeda motor Reading Standar pada tahun 1917, ia pertama kali membukukan rekor perjalanan Batavia-Soerabaja dengan waktu 20 jam dan 45 menit. Gerrit tewas pada tahun 1934 dalam kecelakaan saat berlayar

Frits Sluijmers dan pengendara keduanya, Wim Wygchel, dengan sepeda motor Excelsior begitu sampai di Soerabaja. Kedua orang itu memperbaiki rekor yang dicatat Gerrit de Raadt dengan waktu 20 jam dan 24 menit

1917: Frits Sluijmers dan pengendara keduanya, Wim Wygchel, dengan sepeda motor Excelsior begitu sampai di Soerabaja. Kedua orang itu memperbaiki rekor yang dicatat Gerrit de Raadt dengan waktu 20 jam dan 24 menit

Tanggal 7 Mei 1917, Gerrit de Raadt dengan mengendarai sepeda motor Reading Standard membukukan rekor perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 20 jam dan 45 menit. Sepuluh hari setelahnya, 16 Mei 1917, Frits Sluijmers dan Wim Wygchel yang secara bergantian mengendarai sepeda motor Excelsior memperbaiki rekor yang dibukukan Gerrit de Raadt. Mereka mencatat waktu 20 jam dan 24 menit, dengan kecepatan rata-rata 42 kilometer per jam.

Rekor itu tidak bertahan lama. Sembilan hari sesudahnya, 24 Mei 1917, Goddy Younge dengan sepeda motor Harley Davidson membukukan rekor baru dengan catatan waktu 17 jam dan 37 menit, dengan kecepatan rata-rata 48 kilometer per jam.

Goody Younge beberapa saat setelah memasuki kota Soerabaja

1917: Goody Younge beberapa saat setelah memasuki kota Soerabaja

Rekor itu sempat bertahan selama lima bulan sebelum dipecahkan oleh Barend ten Dam yang mengendarai sepeda motor Indian dalam waktu 15 jam dan 37 menit pada tanggal 18 September 1917, dengan kecepatan rata-rata 52 kilometer per jam.

Melihat rekornya dipecahkan oleh Barend ten Dam, enam hari sesudahnya, 24 September 1917, Goddy Younge yang berasal dari Semarang kembali mengukir rekor baru dengan catatan waktu 14 jam dan 11 menit, dan kecepatan sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya rata-rata 60 kilometer per jam.

Goody Younge dengan sepeda motor Harley Davidsonnya berpose di Semarang sewaktu ia membukukan rekor perjalanan sepeda motor Batavia-Soerabaja yang kedua

1917: Goody Younge dengan sepeda motor Harley Davidsonnya berpose di Semarang sewaktu ia membukukan rekor perjalanan sepeda motor Batavia-Soerabaja yang kedua

Pada awal tahun 1960-an, mulai masuk pula skuter Vespa, yang disusul dengan skuter Lambretta pada akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, masuk pula sepeda motor asal Jepang, Honda, Suzuki, Yamaha, dan belakangan juga Kawasaki.

Seiring dengan perjalanan waktu, sepeda motor asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor di negeri ini. Urutan teratas ditempati oleh Honda, diikuti oleh Yamaha di tempat kedua dan Suzuki di tempat ketiga. (JL)

Perbaikan dari artikel yang dimuat di harian Kompas, 16 Agustus 2008, halaman 41

Dikutip dari Artikel James Luhulima pada October 12th, 2008

11 Responses to “Sejarah Sepeda Motor di Indonesia”

  1. petromaxx February 14, 2009 at 11:36 pm #

    bolak balik saya baca artikel ini bang awi,..
    hehehe..
    hebat betul jaman dulu… ya

  2. aWi February 16, 2009 at 12:07 am #

    iya saya juga. Salut sama rider itu. Apalagi jaman dulu, suasana dan konsisi jalan yang jauh dari sempurna, apalagi motornya.

  3. Mrs. P. van Iersel-Sluijmers March 12, 2009 at 5:10 am #

    Sdr. Awiguna Yth.
    Saya sangat senang melihat foto-foto jaman dulu.
    Frits Sluijmers adalah ayah saya.
    Kalau anda punya foto yang jelas, semoga anda kirim. Terima kasih!

    • Bernard Berendsen February 4, 2010 at 7:06 pm #

      Geachte mevrouw ,

      Mijn naam is Bernard Berendsen en ik was op zoek naar de naam Sluijmers in het vroegere Nederlands Indie. Ik werk aan een boek ‘Indische Verwanten’Ik neem hierbij de meest gemeenschappelijke stamvader de Nederlandse Luitenant Kolonel Willem de Tourton Bruijns. Werkend aan de derde generatie zoek ik de gegevens en afstammelingen van Johanna Maria Henriette Jacqueline de Tourton Bruijns. Zij was in 2e huwelijk gehuwd met Jan Sluijmers , die dan de vader moet zijn van Frits Sluijmers. Wim Wijchgel die ook in het motorverhaal voortkomt is een neef van Frits. Diens moeder is Franceska Antoinette Maria de Tourton Bruijns , gehuwd met Karel Wijchgel.
      Ik zou graag alle kinderen weten die uit het huwelijk van Johanna en Jan Sluijmers geboren zijn. Dit huwelijk werd in Soerabaja ontbonden op 12 maart 1915. Alle gegevens zijn welkom omdat ik naast statistische gegevens zoals geboorte data ook details wil vermelden. Het Indische verleden gaat nu langzaam verloren. Mijn moeder is nog in de oude tijd geboren maar is onlangs overleden en ik wil graag een stuk geschiedenis vastleggen. Deel I van Indische verwanten is in concept klaar en bij diverse verwanten uitgezet. Alle afstammelingen bloedverwant en aanverwant worden zoveel mogelijk vermeld en tegen vergoeding van Porto en kopieerkosten kunnen alle belanghebbenden vrij over het geheel beschikken. Zelf stam ik af van Anthonetta de Tourton Bruijns, een nicht van Johanna.

      Ik hoop van u te horen,

      met vriendelijke groet,

      Bernard Berendsen

      • Wijnand Nijs February 11, 2010 at 1:10 am #

        Hallo Bernard,

        Geweldig… een nazaat van Anthonetta de Tourton Bruijns. Met de belofte dat ik je snel wat uitgebreider zal mailen (heb het op het moment dat ik je reactie las wat druk), alvast mijn site welke tevens als database voor mijn vondsten is ingericht.

        http://alf4all.demon.nl/roots/index.htm

        Het wijst zich vanzelf.

        Vriendelijke groeten…

        Wijnand Nijs (kleinzoon van Frits Sluymers)
        w.nijs@alf4all.demon.nl

  4. ferry March 12, 2009 at 9:20 am #

    wow, benar kah ini? wah, lancar sekali indonesianya, apa tinggal di indonesia?

  5. Wijnand Nijs March 13, 2009 at 3:52 am #

    I am a grandson of Frits Sluijmers. It is for my not possible to read those articals, but I am looking for someone who can translate it for me. My question is: where do those nice picture come from? Are there somewhere more of those pictures? I am verry interrested because i am write a story about that time (motercycles/Java-races). Who can help me with information?

    Thanks and greetings…
    Wijnand Nijs

    • Bernard Berendsen February 13, 2010 at 11:24 pm #

      Beste Wijnand,

      Bedankt voor je reactie.Inmiddels heb ik je web site bekeken en vind hem interessant. Van Willem de Tourton Bruijns /Bruyns heb ik een aantal pagina’s levensbeschrijving gereed mede aan de hand van gegevens uit het Oostenrijks Heeresarchief. Daarop volgend een beschrijving van zijn 4 zonen echter deze zijn nog voor aanvulling vatbaar.Van de zonen Frederik,(vader van Franceska) Carel (vader van o.a. mijn overgrootmoeder Anthonetta) en van Jan Jacob zijn foto’s bijgevoegd.Alle afstammelingen van Carel met veel details en foto’s zijn mij bekend maar ieder detail is meegenomen.Voor belangstellenden zijn deze gegevens tegen vergoeding van porto en kopieerkosten beschikbaar. Ik weet inmiddels dat het mogelijk is om e.e.a. op internet te zetten en dan kan het verder allemaal kostenloos,echter ik weet nog niet hoe. Ik zit eigenlijk op het niveau ganzeveer en perkament. :-) Zelf wil ik zo graag zoveel mogelijk gegevens hebben om dit belangrijk stuk Indische familie geschiedenis zoveel mogelijk te completeren. Ik weet dat Jan Sluijmers samen met zijn zoon Frits een rijwiel/motorzaak (Sluijmers & CO) had in Soerabaja. (de geboorteplaats van mijn oma). Twee neven Wijchgel hebben ook daarin gewerkt. Helaas kan ik de foto’s op deze motor site niet openen.

      Vriendelijke groet ,

      Bernard Berendsen

  6. aWi March 13, 2009 at 5:06 pm #

    Dear Mr.Wijnand,
    As I mentioned before, this articles i got from James Luhulima. you can surf to his Blog at http://jamesluhulima.kompasiana.com/

    This article also has published in Kompas Newspaper on August 16th, 2008, page 41. You Can go to http://www.kompas.com

    Thanks for visiting Our Blog.

    awi

  7. Indra pratama August 30, 2009 at 5:12 pm #

    Mas, bolehkah saya jadikan sebagian artikel ini saya kutip sebagai sumber dari artikel yang akan saya buat tentang Bikers Brotherhood sebagai lead? tentunya saya akan cantumkan nama mas dan alamat wordpress ini.

    indra
    085720104828

  8. sabdho guparman October 12, 2009 at 4:55 pm #

    salut . . .
    dulu kan belun banyak pom bensin , gimana caranya ya kalau bensin habis?

    biker forever . . . ndak ada matinya . . .

    keep brotherhood,

    salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: